Friday, September 26, 2014

Syukurku di Kampung Cibuyutan

Desa Binaan FMIPA UI 2014

Pada bulan agustus lalu, saya dan teman-teman dari FMIPA UI mengadakan kegiatan “Desa Binaan” di kampung cibuyutan. Kami berada disana selama enam hari, tanggal 16-21 agustus 2014.

Bersiap berangkat ke kampung Cibuyutan
(dari bawah kiri : trifani, dinar, naili, darin. dari atas kiri : alifah, dita, ochi, wada, randy, ade, yusuf)

Kampung cibuyutan berada di desa sukarasa, kecamatan tanjung sari, kabupaten bogor. Walau berada di kabupaten Bogor, kampung tersebut  Kami berangkat dari Rotunda sekitar jam 9.30 pagi. Sebanyak empat buah kendaraan TNI mengantarkan kami ke kampung tersebut sekitar 2 jam. Kendaraan tersebut hanya dapat mengantarkan sampai pesantren. Setelah itu kami melaksanakan solat dzuhur dan istirahat makan siang. Sekitar jam satu siang, perjalanan pun dilanjutkan. Kurang lebih dua jam, kami sampai di kampung Cibuyutan. Perjalanan cukup melelahkan karena jalanan yang terus menanjak dan panjang. Baik sepanjang perjalanan maupun di kampung tersebut pemandangan tersajikan dengan indah.

Pemandangan di kampung Cibuyutan

Kami disambut oleh kepala sekolah dan guru Madrasah Ibtidaiyyah Miftahussholah II, yakni Pak Mistah dan Pak Idris. Sore pun tiba, anak-anak berkumpul di depan sekolah. Ada yang bermain bola dan ada yang berlari-larian tanpa arah. Setelah itu, kami diantarkan oleh masing-masing anak ke homestay.

Rumah Onim
(dari kiri bawah: mistam, randy, onim,ochi. dari kiri atas: dinar, yanto, dini, alifah, trifani)
Saya dan kelima teman saya (Dinar, Ochi, Ajeng, Intan, dan Manda) dikelompokkan ke dalam satu tempat tinggal, rumah Onim. Onim adalah ketua kelas 2 di sekolah. Dia cukup pemalu pada awalnya akan tetapi beberapa hari kemudian, Onim sangat aktif bahkan dia serig melantunkan pantunnya di depan kami berlima. Di bawah ini merupakan contoh pantun oleh Onim, Mistam, dan Yanto :

hideung hideung       bodas bodas               hijo hijo                  koneng koneng
buah apel                  buah rambutan          buah mangga          buah manggis
baju hideung             baju bodas                 baju hijo                 baju koneng
meni lepeul               kayak orang utan       meni gagah             meni geulis

Upacara memperingati kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 
Keesokan paginya, tanggal 17 Agustus. Kami pun bersiap untuk melaksanakan upacara bendera di depan halaman sekolah. Matahari pagi menyambut kami dengan hangat membuat upacara saat itu lebih khidmat. Rasa syukur terus membayangiku sambil melihat anak-anak yang siap dengan seragamnya berbaris rapi di depan hamparan pemandangan yang indah.
Lomba 17 Agustus (mistam vs reza)

Setiap harinya kami selalu mengadakan acara bagi masyarakat disana. Seperti mengajar anak-anak di sekolah, sosialisasi tentang bahaya longsor, kulkas dari pot, pupuk, dan juga imunisasi dari puskesmas. Tidak lupa kami juga mengadakan lomba 17 Agustus! Lomba tersebut dilaksanakan tanggal 20 sejak pagi dan pada malam hari kami mengadakan penutupan, nobar serta pembagian hadiah.

Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Hal tersebut selalu berhasil membuat saya sedih. Mereka, anak-anak di Cibuyutan menyanyikan kami lagu “sayounara” bersama-sama. Tangis pun terdengar dimana-mana. Saya kemudian teringat kata-kata Yanto saat setelah makan siang di saung depan rumah Onim, “kak,jangan pulang besok..” “nanti kita bantuin nyuci piring kak” yah intinya mereka tidak ingin kami pulang. Sedih mendengar mereka berkata seperti itu. Sebelumnya pun, yanto, reza, dan onim mengajak saya ke batu besar. Batu besar memang batu yang sangat besar. Dari atas batu itu kita dapat melihat sekeliling kampung Cibuyutan, sawah maupun rumah warga. Mereka sangat berani, dari memanjat pohon hingga memanjat batu, melompat kesana kemari. Pemandangan yang indah membuatku lupa bahwa esok kami akan pulang.

Bermain lompat karet
Tanggal 21 pun tiba, kami bersiap sejak pagi. Seperti biasa, pukul 6 pagi saat kami sarapan Onim sudah bersiap dengan seragam merah-putihnya. Kagum dengan semangat belajar lascar Cibuyutan. Sekolah pukul 8 (kelas 1,2,3 SD) dan 10 (kelas 4,5,6 SD) tapi sudah siap berangkat dari jam 6 pagi. Malu dengan kenyataan bahwa kami masih sering terlambat di kampus karena kesiangan. Semangat mereka merupakan cara Tuhan untuk mengingatkan kami agar berubah.

Saat itu, kami bersiap di depan halaman sekolah. Awalnya hanya berniat untuk baris dan langsung berangkat pulang. Tetapi, seorang teman kami, Randy memimpin untuk menyanyikan lagu hymne guru. Saat itu pak mistah dan pak Idris berada di depan kami. Saya melihat pak Mistah sedikit berjalan mundur, menundukkan kepala, dan tangisannya pun turun. Saya pun tertegun. Terbayang usaha beliau menjai pelita bagi warga Cibuyutan, mengenalkan mereka akan adanya pendidikan yang bias mengubah hidup mereka. Beliau lah contoh dari “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang sudah sulit ditemukkan saat ini.
Bermain dan Bernyanyi. Kangen senyuman Andri :)


Akhirnya, kami pulang. Satu-persatu kenangan itu muncul setelah kami kembali ke rumah. Saya terus berfikir apa yang akan saya bawa saat kesana lagi nanti J. Semoga mereka tetap menjadi warga Cibuyutan yang ramah dan peduli, tetap menjadi anak-anak yang semangat. Dan semoga kami semua dengan pengalaman ini terus menjadi orang yang terus bersemangat dan bersyukur. Amin yaa Rabbal Alamin.