Thursday, February 13, 2020

Mulai Menulis

Tahun ini saya akan lebih banyak menulis atau update di blog ini dan di blog saya satunya (alifahand.blogspot.com). Semoga bisa memberikan informasi yang lebih baru dan berguna. 

Salam.

Saturday, November 7, 2015

Menyusuri Dusun Cuntel, Desa Kopeng

Dusun Cuntel merupakan salah satu dari 12 dusun yang ada di desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Daerah ini berada di lereng bagian utara Gunung Merbabu. Daerah ini terletak di ketinggian 1500-1800 mdpl dengan suhu udara berkisar 16°C-18°C
Pintu masuk dusun Cuntel, Kopeng
Kami pergi ke daerah Cuntel dengan tujuan pencarian data dan penelitian dalam Kuliah Lapang 2 Geografi UI pada tanggal 1-6 November 2015. Geomer penelitian kami adalah Desa Ngrawan, Desa Nogosaren, Desa Kopeng, Desa Tolokan dan Desa Wates. Tujuan penelitian kami adalah mengamati perbedaan jenis dan fungsi fasilitas penginapan dan pengaruh terhadap kualitas hidup berdasarkan klasifikasi ketinggian. Bingung? hehe.. Intinya  penelitian kami ingin melihat apakah di ketinggian yang berbeda, fungsi & jenis penginapan akan berbeda pula? serta bagaimana pengaruh ke kualitas hidup pekerja di penginapan tersebut?

Cuntel lebih dikenal sebagai jalur pendakian Gunung Merbabu. Selain itu, disana juga terdapat sebuah tempat bernama "Bukit Harapan". Dahulunya, terdapat sebuah pohon kering yang biasa digunakan untuk berdoa, ukurannya sangat besar dengan pemandangan Gunung Merbabu dan menghadap ke arah barat sehingga sangat indah saat matahari tenggelam. Akan tetapi, akibat angin kencang pohon tersebut tumbang sehingga saat ini digantikan oleh sebuah pohon kering yang lebih kecil dari aslinya.
Basecamp Pendaki Gunung Merbabu
Selamat Datang di Bukit Harapan
Pohon Kering di Bukit Harapan
Masyarakat disana umumnya bekerja sebagai pencari rumput, peternak sapi daging dan juga bercocok tanam. Di Cuntel juga terdapat fasilitas beribadah yakni tiga buah gereja (GKJTU, GPDI, GBIS) dan sebuah Masjid bernama BAITURRAHMAN. Fasilitas penginapan di Dusun Cuntel hanya berupa homestay. Terdapat 20 homestay yang tersebar di dusun ini. Biasanya, untuk membedakan lokasi homestay adalah papan nama di bagian depan rumah. Ada yang bertuliskan "Dahlia","Nusa Indah" dan sebagainya. Di setiap rumah biasanya disewakan 1-2 kamar saja. Biaya homestay disana untuk penginapan 25 ribu dan untuk sekali makan bisa membayar sekitar 10-15 ribu rupiah. Sehingga, kurang lebih satu harinya 70 ribu rupiah. 
Salah satu bentuk homestay di Dusun Cuntel
Denah Lokasi Homestay yang tersebar di Dusun Cuntel
Ibu Suningsih salah satu pemilik homestay di Dusun Cuntel
Penginapan disini umumnya digunakan untuk penginapan para pendaki yang ingin istirahat serta kegiatan retreat anak-anak sekolah. Padahal, kondisi Dusun Cuntel cukup dingin dan tenang juga sangat baik bagi orang-orang yang ingin istirahat sambil berlibur atau mungkin untuk rehabilitasi. Bagi yang ingin menginap, berikut nomor HP Ibu Suningsih salah satu pemilik homestay disana.
Ibu Suningsih : 0852 9376 3787 / 0853 2587 2230
Semoga membantu. :)

Saturday, September 12, 2015

Mencari Kebahagiaan, Mencari Ilmu "X"

Sudah 1 tahun berlalu sejak saya bergabung di Rumah Belajar BEM UI.
Dan disinilah saya masih menimba ilmu. Ilmu yang saya dapat bukanlah ilmu yang didapat di sekolah dasar, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi. Ilmu ini saya sebut saja sebagai ilmu "X". Di dalam ilmu tersebut saya diajarkan banyak hal. Yakni mengenai Empati, Interaksi, Ilmu Praktis, Keberanian, Kesiapsiagaan, Loyalitas dan masih banyak lagi. Terkadang saat kesedihan datang, di sinilah saya menemukan kebahagiaan.

"Sharing is the way we can find happiness"

Mulai dari menjadi seorang pendidik yang terkadang masih di-"didik" oleh adik-adiknya. Hingga saat ini saya diberikan kepercayaan untuk membantu mengurus berjalannya KBM.
Sejujurnya, saya adalah orang yang penakut. Apalagi mengenai hal tanggung jawab kepada orang lain. Takut jika orang tersebut berbuat salah karena saya yang mengatur, takut jika orang tersebut marah karena kesalahan saya, takut jika orang tersebut terluka hatinya karena keputusan saya. Terkadang ketakutan ini menghancurkan saya. Waktu yang tidak pernah berhenti berjalan mengharuskan saya bertindak cepat, sigap dan penuh pemikiran. Segala kegiatan baik akademik maupun non-akademik tetap berjalan. Jam tidur sudah pasti berkurang, jam main/nonton juga.  Saya kira saya akan menyesal.. tapi tidak. Tidak ada sedikitpun rasa menyesal. Ilmu "X" yang saya dapat memberikan sebuah arti hidup yang baru, kebahagiaan.
Kebahagiaan punya banyak definisi. Tapi menurut saya, kebahagiaan bukan sebuah titik melainkan area. Artinya, kebahagiaan tidak hanya di rasakan sesaat atau di saat tertentu saja. Kebahagiaan adalah sebuah proses! dimana memiliki titik-titik pemberhentian dan ruang yang bisa bergerak bebas. Kebahagiaan memiliki beragam faktor-faktor/pengaruh yang berperan juga berada dalam waktu yang lama sehingga saya menyebutnya sebagai area. Bukan ".".

"Kebahagiaan tidak selalu menimbulkan tawa, tapi juga air mata"

Oleh karena itu, saya selalu berharap kepada Allah SWT yang Maha Pengasih & Penyayang untuk memberikan keluarga saya, sahabat dan teman-teman semua bisa mendapatkan kebahagiaan tersebut. Segera carilah ilmu "X" itu dimanapun kalian berada, diruang manapun karena waktu akan terus berjalan tanpa rasa kasih.

Saturday, June 13, 2015

Tumbuh Menjadi Ilmuwan Muda

Mipa Untuk Negeri 2014

Sepulang dari desa binaan, saya harus kembali bekerja. Ya, saya staff humas MUN. Seharusnya saya sudah membantu MUN sejak tanggal 16-23 agustus tetapi dikarenakan jadwal kegiatan Desa Binaan yang juga tanggal 16-21 agustus, membuat saya hanya bisa membantu tanggal 22 dan 23. “Ga capek?” kata teman saya, jawab saya “menurut L?” hahaha. Tentu saja saya lelah, tapi itu merupakan sebuah komitmen yang harus dipertanggung jawabkan. Itulah resiko yang saya ambil. Setiap pekerjaan pun harus dilaksanakan 100% alias dengan totalitas karena waktu yang terlewat tidak akan terulang kembali dan penyesalan akan datang apabila belum berusaha yang terbaik.

MUN atau Mipa Untuk Negeri merupakan salah satu program dari departemen pendidikan dan keilmuwan BEM FMIPA. Tujuannya adalah menyatukan ilmuwan untuk berbagi informasi, berdiskusi menyelesaikan masalah di Indonesia. Tidak lupa pula, diadakan malam penganugrahan atau MIPA UI AWARDS (MUA). MUA bertujauan untuk mengapresiasi karya-karya ilmuwan muda, dosen-dosen, atau peneliti yang berjasa di Indonesia. Intinya, acara besar ini bertujuan untuk membangkitkan semangat ilmuwan muda di Indonesia untuk terus berkarya walau Indonesia masih kurang memperhatikannya.

Tanggal 22 MUN 2014 dilangsungkan di balai sidang diisi dengan seminar mengenai nano teknologi. Saya menemui PJ humas, nadiarani untuk mengambil kaos panitia dan nametag. Tugas humas adalah mengantarkan peserta shalat ke mushola dan setelah seminar mengantar peserta kembali ke wisma. Jadi, saat berlangsungnya seminar, saya  numpang tidur sebentar hahaha. Oh ya, staff humas MUN ada nadiarani, saya, nadia nurdini, intan, ira, akil, ka nuni, ka abam, ka  wahyu, dan masih banyak lagi.

Seminar pun selesai, kami mengantarkan para peserta kembali ke wisma makara UI. Malam itu kami menginap disana. Mengurus kebutuhan peserta, yakni makanan. Setiap pagi jam 7, siang jam 12, dan malam jam 7, kami bersiap membawa makanan untuk dibagikan ke peserta. Peserta berasal dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Bersiap untuk menyumbangkan ilmu dan ide mereka untuk Indonesia. Kagum dengan mereka yang sudah pro dalam ilmu mereka. Membayangkan saya yang ilmunya masih sebiji kacang. Ya, “kamu harus bisa seperti mereka”.

Tanggal 23 MUN 2014, tidak ada kegiatan di pagi ataupun siang hari. Kami mengadakan penutupan di gedung IX FIB jam 18.30. Acara penutupan tersebut dihadiri oleh Miss Earth, rektor, dosen-dosen serta beberapa bintang tamu. Hari itu adalah malam penganugrahan bagi para ilmuwan muda yang sudah berjasa bagi Indonesia. Menurut saya, hal itulah yang harus dilakukan untuk membangun sumber daya manusia di Indonesia. APRESIASI. Apresiasi merupakan bentuk “menghargai” dan “pengakuan” atas ilmu seseorang. Maka dengan adanya apresiasi, akan banyak orang yang memperjuangkan ilmu-ilmu mereka. Dan menjadi SDM yang berkualitas.

Di MUA, Universitas Jember meraih banyak kemenangan. Sedih bercampur senang. Sedih karena harapan agar akan lebih banyak ilmuwan MIPA UI yang menang kandas, dan senang karena usaha mereka yang berjuang bukan di kandangnya terbayar. Semangat mereka yang harus dicontoh oleh mahasiswa/i lain.

“Ilmuwan” mungkin kata yang berat bagi kami saat ini. Sebenarnya, kata “Ilmuwan” hanyalah sebutan. Siapapun yang menggunakan ilmunya untuk menghasilkan manfaat bagi orang banyak adalah Ilmuwan. Contoh : Presiden adalah ilmuwan, kenapa? Karena beliau menggunakan ilmu tata Negara, politik, dan sosialnya untuk kesejahteraan masyarakat. Maka, menjadi ilmuwan tidaklah sulit. Cukup dengan menyelesaikan satu masalah dari ribuan masalah yang ada dengan ilmu yang kita miliki. Mudah kan?


MUN membuat saya bangga memiliki ilmu. Meskipun masih jauh dari perjalanan membantu menyelesaikan masalah di Indonesia, semangat teman-teman ilmuwan muda diluar sana akan menjadi cahaya bagi kami yang akan memulai. Semangat menjadi Ilmuwan Muda para pemilik ilmu di Indonesia! J

"Garuk Gatel Lo Sendiri"

Rumah Belajar BEM UI 2014

Akhirnya setelah setahun menunggu, kesempatan itu pun tiba.

Tanggal 18 september 2014, nama pendidik Rumbel diumumkan lewat twitter. Alhamdulillah. Saya berhasil lolos. Mungkin bagi sebagian orang menyepelekan hal ini. Menurut mereka tidak pentinglah diterima di Rumbel atau tidak. Tapi, bagi saya ini penting.

Rumbel atau Rumah Belajar adalah program oleh Sosma BEM UI. Rumbel merupakan wadah bagi para volunteer untuk bergerak di bidang pendidikan. Mereka memiliki dua program, yakni Program Paket B dan C serta program Bimbingan Belajar. Program paket B dan C bekerja sama dengan Master (Mesjid terminal) Depok.  Program ini boleh diikuti oleh beragam usia untuk mendapatkan ijazah SMP atau SMA. Sedangkan, program bimbel boleh diikuti oleh anak SD dari kelas 1 sampai 6. Selain dua program belajar, Rumbel juga memiliki beragam kegiatan, seperti Pagelaran Bocah, Sports Day, Ekskul  dan lain-lain dengan harapan menimbulkan minat anak dalam belajar dan membuktikan bahwa belajar itu bukan hal yang membosankan kok. Hal inilah yang membuat saya ingin bergabung Rumbel J.

Saya sudah mengikuti wawancara Rumbel sejak masih mahasiswa baru, yakni tahun 2013. Tapi, saat itu saya pun tidak dikabarkan, alias tidak lulus. Kemungkinan besar karena gagal dalam wawancara. Sebenarnya, sekalipun saya belum pernah melakukan wawancara seperti itu. Banyak hal yang belum saya persiapkan, baik apa yang harus dan tidak boleh saya ucapkan. Seperti pertanyaan “apa berita/hal yang terakhir kali kamu baca di bidang pendidikan?” saat itu saya menjawab pertanyaan tersebut dengan berita yang sudah sangat lama. Memalukan bukan? Itu tandanya saya belum memperhatikan masalah-masalah terkait pendidikan tapi sudah mau jadi pendidik. Ckck. Heran dengan diri saya saat itu.

“Wawancara” itu menjadi pelajaran berharga bagi wawancara-wawancara selanjutnya. Saya baru tahu bahwa di universitas setiap open recruitment atau mendaftar menjadi panitia harus melakukan wawancara. Selama setahun yang lalu, banyak wawancara yang sudah dialami. Dari wawancara HMD, oprec Desbin, MUN, dan lain-lain. Sehingga, saat pendaftaran Rumbel dibuka, saya memberanikan diri mencoba lagi. Mencatat dan menyiapkan segala hal yang harus diucapkan saat wawancara.
Tanggal 12 september, wawancara dilakukan di Perpusat lantai 3. Jam 11 saya wawancara dan Alhamdulillah lagi berjalan lancar. Kemudian, saya dikabarkan untuk membuat essay serta datang ke test simulasi mengajar keesokan harinya. JEDUARR. Yak, tantangan kali ini adalah simulasi mengajar. Memang saya sudah mengajar dari SMA, tapi itu private course buat pelajaran Matematika&IPA anak SD yang kebetulan tetangga saya dan satu lagi anak SMA yang les bahasa Jepang. Simulasi mengajar? Tentu belum. Kegiatan mengajar yang terakhir saya lakukan adalah saat Desa Binaan FMIPA UI. Saat itu saya membantu mengajar dikelas 1 SD. Sekali lagi, pasti berbeda dengan simulasi mengajar nanti.

Saya pun mencatat materi yang akan saya ajarkan. Tidak lupa membawa “hidden card” yang saya punya, yakni alat sulap. Sulap selalu berhasil menarik perhatian orang (Prok Prok untuk para pesulap). Di simulasi mengajar, saya mengajarkan mahasiswa/i yang berpura-pura jadi murid SD. Cukup khawatir karena itu hanya pura-pura apakah akan benar-benar seperti anak SD? Alhamdulillah mereka benar-benar seperti anak SD, hahahaha. Sehingga proses pembelajaran pun bisa “terlihat” aktif. Simulasi mengajar pun selesai, saya langsung izin pulang dan melambaikan tangan ke anak-anak “SD” tersebut.

Setelah diumumkan tanggal 18 september, tanggal 20 september 2014 pelatihan pendidik Rumbel pun diadakan. Jam 10 pagi saya datang ke Pusbintakwa, gedung di depan Pusgiwa. Saat itu, pembicara Kak Gilang dari Indonesia Mengajar sudah tiba, tapi masih ada beberapa pendidik yang belum datang. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, para pendidik mulai lengkap.

Dimulai dengan Kak Gilang memperkenalkan dirinya serta memberi tahu untuk tidak telat saat mengajar, karena hal itu dapat dicontoh oleh muridnya. Tentu seperti peribahasa “Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari”. Seorang guru harus bisa menjaga dirinya agar murid tidak mencontoh hal-hal negatif, yakni dengan menghilangkan kebiasaan buruk itu pula. Kak Gilang mengajarkan kita beberapa teknik perkenalan yang langsung diaplikasikan oleh para pendidik yang memang belum terlalu kenal. Kami juga mempelajari untuk membuat RPP, yakni semacam rancangan pembelajaran. RPP tersebut bermanfaat dalam pemanfaatan waktu pengajaran dalam mencapai target yang ditetapkan tanpa membebani murid. Kita juga diberi nasihat untuk memikirkan “Apa beda Rumbel dengan sekolah-sekolah anak tersebut?”.

Setelah arahan dari Kak Gilang, kami ishoma dan dilanjutkan sharing dengan Kak Muhammad Anggraito sesepuh di Rumbel.  Kak Ito baru saja lulus dari FKM UI dan berhasil masuk ke Indonesia Mengajar. Mengagumkan bukan? Kak Ito membawakan persentasi berjudul “Gatel? Garuk Gatel Lo Sendiri”. Dia memaparkan tentang kondisi di Indonesia yang bermasalah dengan jumlah orang yang bersekolah hingga pendidikan tinggi hanya secuil persen, jumlah pengangguran sarjana lebih banyak dari lulusan SD dan sebagainya. Tapi, walaupun begitu Indonesia bukanlah Negara yang kekurangan orang baik. Berdasarkan survey yang kak Ito dapat, Indonesia adalah Negara dengan tingkat kepedulian yang tinggi. Indonesia masuk sebagai Negara paling dermawan. Baik dari jumlah zakat tunai, volunteer dan bentuk kepedulian lainnya (Standing Applause untuk Negaraku). Intinya kak Ito menjelaskan agar “kalau kita sebel dengan suatu masalah, jangan melimpahkannya atau menyerahkannya kepada orang lain, tapi uruslah urusan itu, selesaikanlah masalah itu. Sama seperti kalau lo gatel, garuk aja sendiri jangan minta orang lain garukkin gatel lo”. Dalem yah, dari situ belajarlah bahwa jangan hanya mengeluh dan mengkritik saja, tapi selesaikanlah sendiri. Jangan hanya memaparkan masalahnya saja, tapi turut menyelesaikannya.

Sekitar jam 4 sore, setelah pelatihan pendidik, kami berfoto bersama dan foto masing-masing untuk pendidik. Mulai saat ini, saya berkomitmen di Rumbel. Semoga bisa membantu Indonesia khusunya anak-anak nanti agar menjadi SDM yang berkualitas serta membantu saya untuk menjadi orang yang lebih bersyukur dan terus bersyukur dalam setiap nafas yang dihembuskan. Aminn yaa Rabbal Alamin.


NB: Judul tulisan meminjam ide kak Ito “Garuk Gatel Lo Sendiri”. Terima kasih kak Gilang dan kak Ito atas ilmunya yang keren-keren semoga bermanfaat bagi semuanya. Amin. 

How Are You, Panca?

Aku Rindu Bandung, I Miss Panca

Setiap liburan datang, aku selalu teringat Kota Bandung. Kota yang dikenang indah. Penuh dengan hinggar binggar cahaya di malam hari, outlet-outlet fashion high-class, makanan-makanan enak, dan pemuda-pemudi cantik dan tampan. Tapi bukan hal seperti itu yang ada di kenanganku. Yang kuingat dari Bandung adalah Panca.

"Panca adalah seseorang yang mengubah hidupku"

Bagaimana aku saat ini, apa pilihan organisasiku, siapa teman-temanku.. dialah pengaruh terbesar setelah keluargaku. Banyak teman-temanku yang belum tahu tentang hal ini. Bukan karena dia tak pantas kubicarakan, tapi untuk menjaga dia dari komentar teman-temanku yang belum mengenalnya.

"meskipun aku juga hanya kenal sekitar 1 jam, meskipun aku belum tahu siapa dia sebenarnya"  

Kepercayaan dirinya membuatku ingin meraih mimpi lagi, meski aku sempat menyerah. Kegigihannya menggeluti perasaanku setiap teringat akan dia. Rindu bertemu dengannya. Banyak kata yang tak sempat kuucapkan padanya. Harapanku, jangan ubah dia.. jangan ambil dia.. aku mohon. Kalau memang suatu hari mimpiku bisa kuwujudkan, dialah orang kedua setelah Ayah dan Ibuku yang ingin kuperlihatkan. Akan kutunjukkan bahwa dia bisa menggapai mimpinya pula, karena hanya beberapa kata yang dia ucapkan dahulu telah mampu membuatku mewujudkan hal ini. 

"Ya Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya, jika memang mimpi ini baik bagiku, lancarkanlah jalanku dan cukupkan aku kekuatan untuk menggapai mimpi tersebut, Amin Yaa Rabbal Alamin"  

Teruntuk Panca :
Bagaimana kabarmu? wahh pasti kamu sudah besar yaa? SMP kah? bagaimana sekolahmu? Lancar ga? Apa masih membantu orang tuamu? Wah, kalau iya hebat banget! Nanti aku pasti ajak teman-temanku untuk beli Koran di kamu.. semoga penjualan hari ini lebih baik dari kemarin yaa.. semangat! Go Go Go!!! Oiya adik-adik kamu gimana kabarnya? baik juga kan? mm, aku mau tanya lagi nihh, sudah sampai mana usahamu untuk memimpin negara ini nantinya? wahh hebat! semoga jadi presiden yang bisa membanggakan Indonesia yaa nantinya! mm, kamu harus lihat sekolah yang kakak bikin yaa, yuk kesana.. sekolah itu aku buat karena terinspirasi dari kamu loh.. jadi harus lihat apa yang sudah kamu lakukan dengan perkataanmu di Jalan Riau waktu itu. Dan Terima Kasih, Terima Kasih, Terima Kasih  banyaaak banget yaa kamu sudah merubah hidupku.

“mm… dan satu orang lagi yang telah mengubah hidupku.. nan jauh di Jepang.. dia yang tak sadar telah  menjadi orang yang mampu mengubahku menjadi orang yang berfikir untuk tidak melakukan hal diluar batas dan membuatku mampu memposisikan diriku dari sudut pandang orang lain.. Sankyu ARL”

Friday, September 26, 2014

Syukurku di Kampung Cibuyutan

Desa Binaan FMIPA UI 2014

Pada bulan agustus lalu, saya dan teman-teman dari FMIPA UI mengadakan kegiatan “Desa Binaan” di kampung cibuyutan. Kami berada disana selama enam hari, tanggal 16-21 agustus 2014.

Bersiap berangkat ke kampung Cibuyutan
(dari bawah kiri : trifani, dinar, naili, darin. dari atas kiri : alifah, dita, ochi, wada, randy, ade, yusuf)

Kampung cibuyutan berada di desa sukarasa, kecamatan tanjung sari, kabupaten bogor. Walau berada di kabupaten Bogor, kampung tersebut  Kami berangkat dari Rotunda sekitar jam 9.30 pagi. Sebanyak empat buah kendaraan TNI mengantarkan kami ke kampung tersebut sekitar 2 jam. Kendaraan tersebut hanya dapat mengantarkan sampai pesantren. Setelah itu kami melaksanakan solat dzuhur dan istirahat makan siang. Sekitar jam satu siang, perjalanan pun dilanjutkan. Kurang lebih dua jam, kami sampai di kampung Cibuyutan. Perjalanan cukup melelahkan karena jalanan yang terus menanjak dan panjang. Baik sepanjang perjalanan maupun di kampung tersebut pemandangan tersajikan dengan indah.

Pemandangan di kampung Cibuyutan

Kami disambut oleh kepala sekolah dan guru Madrasah Ibtidaiyyah Miftahussholah II, yakni Pak Mistah dan Pak Idris. Sore pun tiba, anak-anak berkumpul di depan sekolah. Ada yang bermain bola dan ada yang berlari-larian tanpa arah. Setelah itu, kami diantarkan oleh masing-masing anak ke homestay.

Rumah Onim
(dari kiri bawah: mistam, randy, onim,ochi. dari kiri atas: dinar, yanto, dini, alifah, trifani)
Saya dan kelima teman saya (Dinar, Ochi, Ajeng, Intan, dan Manda) dikelompokkan ke dalam satu tempat tinggal, rumah Onim. Onim adalah ketua kelas 2 di sekolah. Dia cukup pemalu pada awalnya akan tetapi beberapa hari kemudian, Onim sangat aktif bahkan dia serig melantunkan pantunnya di depan kami berlima. Di bawah ini merupakan contoh pantun oleh Onim, Mistam, dan Yanto :

hideung hideung       bodas bodas               hijo hijo                  koneng koneng
buah apel                  buah rambutan          buah mangga          buah manggis
baju hideung             baju bodas                 baju hijo                 baju koneng
meni lepeul               kayak orang utan       meni gagah             meni geulis

Upacara memperingati kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 
Keesokan paginya, tanggal 17 Agustus. Kami pun bersiap untuk melaksanakan upacara bendera di depan halaman sekolah. Matahari pagi menyambut kami dengan hangat membuat upacara saat itu lebih khidmat. Rasa syukur terus membayangiku sambil melihat anak-anak yang siap dengan seragamnya berbaris rapi di depan hamparan pemandangan yang indah.
Lomba 17 Agustus (mistam vs reza)

Setiap harinya kami selalu mengadakan acara bagi masyarakat disana. Seperti mengajar anak-anak di sekolah, sosialisasi tentang bahaya longsor, kulkas dari pot, pupuk, dan juga imunisasi dari puskesmas. Tidak lupa kami juga mengadakan lomba 17 Agustus! Lomba tersebut dilaksanakan tanggal 20 sejak pagi dan pada malam hari kami mengadakan penutupan, nobar serta pembagian hadiah.

Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Hal tersebut selalu berhasil membuat saya sedih. Mereka, anak-anak di Cibuyutan menyanyikan kami lagu “sayounara” bersama-sama. Tangis pun terdengar dimana-mana. Saya kemudian teringat kata-kata Yanto saat setelah makan siang di saung depan rumah Onim, “kak,jangan pulang besok..” “nanti kita bantuin nyuci piring kak” yah intinya mereka tidak ingin kami pulang. Sedih mendengar mereka berkata seperti itu. Sebelumnya pun, yanto, reza, dan onim mengajak saya ke batu besar. Batu besar memang batu yang sangat besar. Dari atas batu itu kita dapat melihat sekeliling kampung Cibuyutan, sawah maupun rumah warga. Mereka sangat berani, dari memanjat pohon hingga memanjat batu, melompat kesana kemari. Pemandangan yang indah membuatku lupa bahwa esok kami akan pulang.

Bermain lompat karet
Tanggal 21 pun tiba, kami bersiap sejak pagi. Seperti biasa, pukul 6 pagi saat kami sarapan Onim sudah bersiap dengan seragam merah-putihnya. Kagum dengan semangat belajar lascar Cibuyutan. Sekolah pukul 8 (kelas 1,2,3 SD) dan 10 (kelas 4,5,6 SD) tapi sudah siap berangkat dari jam 6 pagi. Malu dengan kenyataan bahwa kami masih sering terlambat di kampus karena kesiangan. Semangat mereka merupakan cara Tuhan untuk mengingatkan kami agar berubah.

Saat itu, kami bersiap di depan halaman sekolah. Awalnya hanya berniat untuk baris dan langsung berangkat pulang. Tetapi, seorang teman kami, Randy memimpin untuk menyanyikan lagu hymne guru. Saat itu pak mistah dan pak Idris berada di depan kami. Saya melihat pak Mistah sedikit berjalan mundur, menundukkan kepala, dan tangisannya pun turun. Saya pun tertegun. Terbayang usaha beliau menjai pelita bagi warga Cibuyutan, mengenalkan mereka akan adanya pendidikan yang bias mengubah hidup mereka. Beliau lah contoh dari “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang sudah sulit ditemukkan saat ini.
Bermain dan Bernyanyi. Kangen senyuman Andri :)


Akhirnya, kami pulang. Satu-persatu kenangan itu muncul setelah kami kembali ke rumah. Saya terus berfikir apa yang akan saya bawa saat kesana lagi nanti J. Semoga mereka tetap menjadi warga Cibuyutan yang ramah dan peduli, tetap menjadi anak-anak yang semangat. Dan semoga kami semua dengan pengalaman ini terus menjadi orang yang terus bersemangat dan bersyukur. Amin yaa Rabbal Alamin.