Desa Binaan FMIPA UI 2014
Pada
bulan agustus lalu, saya dan teman-teman dari FMIPA UI mengadakan kegiatan
“Desa Binaan” di kampung cibuyutan. Kami berada disana selama enam hari,
tanggal 16-21 agustus 2014.
| Bersiap berangkat ke kampung Cibuyutan (dari bawah kiri : trifani, dinar, naili, darin. dari atas kiri : alifah, dita, ochi, wada, randy, ade, yusuf) |
Kampung
cibuyutan berada di desa sukarasa, kecamatan tanjung sari, kabupaten bogor. Walau
berada di kabupaten Bogor, kampung tersebut Kami berangkat dari Rotunda sekitar jam 9.30
pagi. Sebanyak empat buah kendaraan TNI mengantarkan kami ke kampung tersebut
sekitar 2 jam. Kendaraan tersebut hanya dapat mengantarkan sampai pesantren.
Setelah itu kami melaksanakan solat dzuhur dan istirahat makan siang. Sekitar
jam satu siang, perjalanan pun dilanjutkan. Kurang lebih dua jam, kami sampai
di kampung Cibuyutan. Perjalanan cukup melelahkan karena jalanan yang terus
menanjak dan panjang. Baik sepanjang perjalanan maupun di kampung tersebut pemandangan
tersajikan dengan indah.
| Pemandangan di kampung Cibuyutan |
Kami
disambut oleh kepala sekolah dan guru Madrasah Ibtidaiyyah Miftahussholah II,
yakni Pak Mistah dan Pak Idris. Sore pun tiba, anak-anak berkumpul di depan
sekolah. Ada yang bermain bola dan ada yang berlari-larian tanpa arah. Setelah
itu, kami diantarkan oleh masing-masing anak ke homestay.
![]() |
| Rumah Onim (dari kiri bawah: mistam, randy, onim,ochi. dari kiri atas: dinar, yanto, dini, alifah, trifani) |
Saya
dan kelima teman saya (Dinar, Ochi, Ajeng, Intan, dan Manda) dikelompokkan ke
dalam satu tempat tinggal, rumah Onim. Onim adalah ketua kelas 2 di sekolah. Dia
cukup pemalu pada awalnya akan tetapi beberapa hari kemudian, Onim sangat aktif
bahkan dia serig melantunkan pantunnya di depan kami berlima. Di bawah ini
merupakan contoh pantun oleh Onim, Mistam, dan Yanto :
hideung hideung bodas
bodas hijo hijo koneng
koneng
buah apel buah
rambutan buah
mangga buah manggis
baju hideung baju
bodas baju hijo baju koneng
meni lepeul kayak
orang utan meni gagah meni geulis
| Upacara memperingati kemerdekaan Indonesia 17 Agustus |
Keesokan paginya,
tanggal 17 Agustus. Kami pun bersiap untuk melaksanakan upacara bendera di
depan halaman sekolah. Matahari pagi menyambut kami dengan hangat membuat
upacara saat itu lebih khidmat. Rasa syukur terus membayangiku sambil melihat
anak-anak yang siap dengan seragamnya berbaris rapi di depan hamparan
pemandangan yang indah.
| Lomba 17 Agustus (mistam vs reza) |
Setiap harinya kami
selalu mengadakan acara bagi masyarakat disana. Seperti mengajar anak-anak di
sekolah, sosialisasi tentang bahaya longsor, kulkas dari pot, pupuk, dan juga
imunisasi dari puskesmas. Tidak lupa kami juga mengadakan lomba 17 Agustus!
Lomba tersebut dilaksanakan tanggal 20 sejak pagi dan pada malam hari kami
mengadakan penutupan, nobar serta pembagian hadiah.
Setiap pertemuan pasti
akan ada perpisahan. Hal tersebut selalu berhasil membuat saya sedih. Mereka,
anak-anak di Cibuyutan menyanyikan kami lagu “sayounara” bersama-sama. Tangis
pun terdengar dimana-mana. Saya kemudian teringat kata-kata Yanto saat setelah
makan siang di saung depan rumah Onim, “kak,jangan pulang besok..” “nanti kita
bantuin nyuci piring kak” yah intinya mereka tidak ingin kami pulang. Sedih
mendengar mereka berkata seperti itu. Sebelumnya pun, yanto, reza, dan onim
mengajak saya ke batu besar. Batu besar memang batu yang sangat besar. Dari
atas batu itu kita dapat melihat sekeliling kampung Cibuyutan, sawah maupun
rumah warga. Mereka sangat berani, dari memanjat pohon hingga memanjat batu,
melompat kesana kemari. Pemandangan yang indah membuatku lupa bahwa esok kami
akan pulang.
| Bermain lompat karet |
Tanggal 21 pun tiba,
kami bersiap sejak pagi. Seperti biasa, pukul 6 pagi saat kami sarapan Onim
sudah bersiap dengan seragam merah-putihnya. Kagum dengan semangat belajar
lascar Cibuyutan. Sekolah pukul 8 (kelas 1,2,3 SD) dan 10 (kelas 4,5,6 SD) tapi
sudah siap berangkat dari jam 6 pagi. Malu dengan kenyataan bahwa kami masih
sering terlambat di kampus karena kesiangan. Semangat mereka merupakan cara
Tuhan untuk mengingatkan kami agar berubah.
Saat itu, kami bersiap
di depan halaman sekolah. Awalnya hanya berniat untuk baris dan langsung
berangkat pulang. Tetapi, seorang teman kami, Randy memimpin untuk menyanyikan
lagu hymne guru. Saat itu pak mistah dan pak Idris berada di depan kami. Saya
melihat pak Mistah sedikit berjalan mundur, menundukkan kepala, dan tangisannya
pun turun. Saya pun tertegun. Terbayang usaha beliau menjai pelita bagi warga
Cibuyutan, mengenalkan mereka akan adanya pendidikan yang bias mengubah hidup
mereka. Beliau lah contoh dari “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang sudah sulit
ditemukkan saat ini.
| Bermain dan Bernyanyi. Kangen senyuman Andri :) |
Akhirnya, kami pulang.
Satu-persatu kenangan itu muncul setelah kami kembali ke rumah. Saya terus
berfikir apa yang akan saya bawa saat kesana lagi nanti J. Semoga mereka tetap menjadi
warga Cibuyutan yang ramah dan peduli, tetap menjadi anak-anak yang semangat.
Dan semoga kami semua dengan pengalaman ini terus menjadi orang yang terus bersemangat
dan bersyukur. Amin yaa Rabbal Alamin.

No comments:
Post a Comment