Mipa Untuk Negeri 2014
Sepulang
dari desa binaan, saya harus kembali bekerja. Ya, saya staff humas MUN.
Seharusnya saya sudah membantu MUN sejak tanggal 16-23 agustus tetapi
dikarenakan jadwal kegiatan Desa Binaan yang juga tanggal 16-21 agustus,
membuat saya hanya bisa membantu tanggal 22 dan 23. “Ga capek?” kata teman saya,
jawab saya “menurut L?” hahaha. Tentu saja saya lelah, tapi itu merupakan
sebuah komitmen yang harus dipertanggung jawabkan. Itulah resiko yang saya ambil.
Setiap pekerjaan pun harus dilaksanakan 100% alias dengan totalitas karena
waktu yang terlewat tidak akan terulang kembali dan penyesalan akan datang
apabila belum berusaha yang terbaik.
MUN
atau Mipa Untuk Negeri merupakan salah satu program dari departemen pendidikan
dan keilmuwan BEM FMIPA. Tujuannya adalah menyatukan ilmuwan untuk berbagi
informasi, berdiskusi menyelesaikan masalah di Indonesia. Tidak lupa pula, diadakan
malam penganugrahan atau MIPA UI AWARDS (MUA). MUA bertujauan untuk mengapresiasi
karya-karya ilmuwan muda, dosen-dosen, atau peneliti yang berjasa di Indonesia.
Intinya, acara besar ini bertujuan untuk membangkitkan semangat ilmuwan muda di
Indonesia untuk terus berkarya walau Indonesia masih kurang memperhatikannya.
Tanggal
22 MUN 2014 dilangsungkan di balai sidang diisi dengan seminar mengenai nano
teknologi. Saya menemui PJ humas, nadiarani untuk mengambil kaos panitia dan
nametag. Tugas humas adalah mengantarkan peserta shalat ke mushola dan setelah
seminar mengantar peserta kembali ke wisma. Jadi, saat berlangsungnya seminar,
saya numpang tidur sebentar hahaha. Oh
ya, staff humas MUN ada nadiarani, saya, nadia nurdini, intan, ira, akil, ka
nuni, ka abam, ka wahyu, dan masih
banyak lagi.
Seminar
pun selesai, kami mengantarkan para peserta kembali ke wisma makara UI. Malam
itu kami menginap disana. Mengurus kebutuhan peserta, yakni makanan. Setiap
pagi jam 7, siang jam 12, dan malam jam 7, kami bersiap membawa makanan untuk
dibagikan ke peserta. Peserta berasal dari seluruh perguruan tinggi di
Indonesia. Bersiap untuk menyumbangkan ilmu dan ide mereka untuk Indonesia.
Kagum dengan mereka yang sudah pro dalam ilmu mereka. Membayangkan saya yang
ilmunya masih sebiji kacang. Ya, “kamu harus bisa seperti mereka”.
Tanggal
23 MUN 2014, tidak ada kegiatan di pagi ataupun siang hari. Kami mengadakan
penutupan di gedung IX FIB jam 18.30. Acara penutupan tersebut dihadiri oleh
Miss Earth, rektor, dosen-dosen serta beberapa bintang tamu. Hari itu adalah
malam penganugrahan bagi para ilmuwan muda yang sudah berjasa bagi Indonesia.
Menurut saya, hal itulah yang harus dilakukan untuk membangun sumber daya
manusia di Indonesia. APRESIASI. Apresiasi merupakan bentuk “menghargai” dan
“pengakuan” atas ilmu seseorang. Maka dengan adanya apresiasi, akan banyak
orang yang memperjuangkan ilmu-ilmu mereka. Dan menjadi SDM yang berkualitas.
Di
MUA, Universitas Jember meraih banyak kemenangan. Sedih bercampur senang. Sedih
karena harapan agar akan lebih banyak ilmuwan MIPA UI yang menang kandas, dan
senang karena usaha mereka yang berjuang bukan di kandangnya terbayar. Semangat
mereka yang harus dicontoh oleh mahasiswa/i lain.
“Ilmuwan” mungkin kata yang berat bagi kami
saat ini. Sebenarnya, kata “Ilmuwan” hanyalah sebutan. Siapapun yang menggunakan
ilmunya untuk menghasilkan manfaat bagi orang banyak adalah Ilmuwan. Contoh :
Presiden adalah ilmuwan, kenapa? Karena beliau menggunakan ilmu tata Negara,
politik, dan sosialnya untuk kesejahteraan masyarakat. Maka, menjadi ilmuwan
tidaklah sulit. Cukup dengan menyelesaikan satu masalah dari ribuan masalah
yang ada dengan ilmu yang kita miliki. Mudah kan?
MUN
membuat saya bangga memiliki ilmu. Meskipun masih jauh dari perjalanan membantu
menyelesaikan masalah di Indonesia, semangat teman-teman ilmuwan muda diluar sana
akan menjadi cahaya bagi kami yang akan memulai. Semangat menjadi Ilmuwan Muda
para pemilik ilmu di Indonesia! J