Saturday, June 13, 2015

"Garuk Gatel Lo Sendiri"

Rumah Belajar BEM UI 2014

Akhirnya setelah setahun menunggu, kesempatan itu pun tiba.

Tanggal 18 september 2014, nama pendidik Rumbel diumumkan lewat twitter. Alhamdulillah. Saya berhasil lolos. Mungkin bagi sebagian orang menyepelekan hal ini. Menurut mereka tidak pentinglah diterima di Rumbel atau tidak. Tapi, bagi saya ini penting.

Rumbel atau Rumah Belajar adalah program oleh Sosma BEM UI. Rumbel merupakan wadah bagi para volunteer untuk bergerak di bidang pendidikan. Mereka memiliki dua program, yakni Program Paket B dan C serta program Bimbingan Belajar. Program paket B dan C bekerja sama dengan Master (Mesjid terminal) Depok.  Program ini boleh diikuti oleh beragam usia untuk mendapatkan ijazah SMP atau SMA. Sedangkan, program bimbel boleh diikuti oleh anak SD dari kelas 1 sampai 6. Selain dua program belajar, Rumbel juga memiliki beragam kegiatan, seperti Pagelaran Bocah, Sports Day, Ekskul  dan lain-lain dengan harapan menimbulkan minat anak dalam belajar dan membuktikan bahwa belajar itu bukan hal yang membosankan kok. Hal inilah yang membuat saya ingin bergabung Rumbel J.

Saya sudah mengikuti wawancara Rumbel sejak masih mahasiswa baru, yakni tahun 2013. Tapi, saat itu saya pun tidak dikabarkan, alias tidak lulus. Kemungkinan besar karena gagal dalam wawancara. Sebenarnya, sekalipun saya belum pernah melakukan wawancara seperti itu. Banyak hal yang belum saya persiapkan, baik apa yang harus dan tidak boleh saya ucapkan. Seperti pertanyaan “apa berita/hal yang terakhir kali kamu baca di bidang pendidikan?” saat itu saya menjawab pertanyaan tersebut dengan berita yang sudah sangat lama. Memalukan bukan? Itu tandanya saya belum memperhatikan masalah-masalah terkait pendidikan tapi sudah mau jadi pendidik. Ckck. Heran dengan diri saya saat itu.

“Wawancara” itu menjadi pelajaran berharga bagi wawancara-wawancara selanjutnya. Saya baru tahu bahwa di universitas setiap open recruitment atau mendaftar menjadi panitia harus melakukan wawancara. Selama setahun yang lalu, banyak wawancara yang sudah dialami. Dari wawancara HMD, oprec Desbin, MUN, dan lain-lain. Sehingga, saat pendaftaran Rumbel dibuka, saya memberanikan diri mencoba lagi. Mencatat dan menyiapkan segala hal yang harus diucapkan saat wawancara.
Tanggal 12 september, wawancara dilakukan di Perpusat lantai 3. Jam 11 saya wawancara dan Alhamdulillah lagi berjalan lancar. Kemudian, saya dikabarkan untuk membuat essay serta datang ke test simulasi mengajar keesokan harinya. JEDUARR. Yak, tantangan kali ini adalah simulasi mengajar. Memang saya sudah mengajar dari SMA, tapi itu private course buat pelajaran Matematika&IPA anak SD yang kebetulan tetangga saya dan satu lagi anak SMA yang les bahasa Jepang. Simulasi mengajar? Tentu belum. Kegiatan mengajar yang terakhir saya lakukan adalah saat Desa Binaan FMIPA UI. Saat itu saya membantu mengajar dikelas 1 SD. Sekali lagi, pasti berbeda dengan simulasi mengajar nanti.

Saya pun mencatat materi yang akan saya ajarkan. Tidak lupa membawa “hidden card” yang saya punya, yakni alat sulap. Sulap selalu berhasil menarik perhatian orang (Prok Prok untuk para pesulap). Di simulasi mengajar, saya mengajarkan mahasiswa/i yang berpura-pura jadi murid SD. Cukup khawatir karena itu hanya pura-pura apakah akan benar-benar seperti anak SD? Alhamdulillah mereka benar-benar seperti anak SD, hahahaha. Sehingga proses pembelajaran pun bisa “terlihat” aktif. Simulasi mengajar pun selesai, saya langsung izin pulang dan melambaikan tangan ke anak-anak “SD” tersebut.

Setelah diumumkan tanggal 18 september, tanggal 20 september 2014 pelatihan pendidik Rumbel pun diadakan. Jam 10 pagi saya datang ke Pusbintakwa, gedung di depan Pusgiwa. Saat itu, pembicara Kak Gilang dari Indonesia Mengajar sudah tiba, tapi masih ada beberapa pendidik yang belum datang. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, para pendidik mulai lengkap.

Dimulai dengan Kak Gilang memperkenalkan dirinya serta memberi tahu untuk tidak telat saat mengajar, karena hal itu dapat dicontoh oleh muridnya. Tentu seperti peribahasa “Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari”. Seorang guru harus bisa menjaga dirinya agar murid tidak mencontoh hal-hal negatif, yakni dengan menghilangkan kebiasaan buruk itu pula. Kak Gilang mengajarkan kita beberapa teknik perkenalan yang langsung diaplikasikan oleh para pendidik yang memang belum terlalu kenal. Kami juga mempelajari untuk membuat RPP, yakni semacam rancangan pembelajaran. RPP tersebut bermanfaat dalam pemanfaatan waktu pengajaran dalam mencapai target yang ditetapkan tanpa membebani murid. Kita juga diberi nasihat untuk memikirkan “Apa beda Rumbel dengan sekolah-sekolah anak tersebut?”.

Setelah arahan dari Kak Gilang, kami ishoma dan dilanjutkan sharing dengan Kak Muhammad Anggraito sesepuh di Rumbel.  Kak Ito baru saja lulus dari FKM UI dan berhasil masuk ke Indonesia Mengajar. Mengagumkan bukan? Kak Ito membawakan persentasi berjudul “Gatel? Garuk Gatel Lo Sendiri”. Dia memaparkan tentang kondisi di Indonesia yang bermasalah dengan jumlah orang yang bersekolah hingga pendidikan tinggi hanya secuil persen, jumlah pengangguran sarjana lebih banyak dari lulusan SD dan sebagainya. Tapi, walaupun begitu Indonesia bukanlah Negara yang kekurangan orang baik. Berdasarkan survey yang kak Ito dapat, Indonesia adalah Negara dengan tingkat kepedulian yang tinggi. Indonesia masuk sebagai Negara paling dermawan. Baik dari jumlah zakat tunai, volunteer dan bentuk kepedulian lainnya (Standing Applause untuk Negaraku). Intinya kak Ito menjelaskan agar “kalau kita sebel dengan suatu masalah, jangan melimpahkannya atau menyerahkannya kepada orang lain, tapi uruslah urusan itu, selesaikanlah masalah itu. Sama seperti kalau lo gatel, garuk aja sendiri jangan minta orang lain garukkin gatel lo”. Dalem yah, dari situ belajarlah bahwa jangan hanya mengeluh dan mengkritik saja, tapi selesaikanlah sendiri. Jangan hanya memaparkan masalahnya saja, tapi turut menyelesaikannya.

Sekitar jam 4 sore, setelah pelatihan pendidik, kami berfoto bersama dan foto masing-masing untuk pendidik. Mulai saat ini, saya berkomitmen di Rumbel. Semoga bisa membantu Indonesia khusunya anak-anak nanti agar menjadi SDM yang berkualitas serta membantu saya untuk menjadi orang yang lebih bersyukur dan terus bersyukur dalam setiap nafas yang dihembuskan. Aminn yaa Rabbal Alamin.


NB: Judul tulisan meminjam ide kak Ito “Garuk Gatel Lo Sendiri”. Terima kasih kak Gilang dan kak Ito atas ilmunya yang keren-keren semoga bermanfaat bagi semuanya. Amin. 

No comments:

Post a Comment