Rumah Belajar BEM UI 2014
Akhirnya
setelah setahun menunggu, kesempatan itu pun tiba.
Tanggal
18 september 2014, nama pendidik Rumbel diumumkan lewat twitter. Alhamdulillah. Saya berhasil lolos.
Mungkin bagi sebagian orang menyepelekan hal ini. Menurut mereka tidak
pentinglah diterima di Rumbel atau tidak. Tapi, bagi saya ini penting.
Rumbel
atau Rumah Belajar adalah program oleh Sosma BEM UI. Rumbel merupakan wadah bagi
para volunteer untuk bergerak di bidang pendidikan. Mereka memiliki dua
program, yakni Program Paket B dan C serta program Bimbingan Belajar. Program
paket B dan C bekerja sama dengan Master (Mesjid terminal) Depok. Program ini boleh diikuti oleh beragam usia
untuk mendapatkan ijazah SMP atau SMA. Sedangkan, program bimbel boleh diikuti
oleh anak SD dari kelas 1 sampai 6. Selain dua program belajar, Rumbel juga
memiliki beragam kegiatan, seperti Pagelaran Bocah, Sports Day, Ekskul dan lain-lain dengan harapan menimbulkan
minat anak dalam belajar dan membuktikan bahwa belajar itu bukan hal yang
membosankan kok. Hal inilah yang membuat saya ingin bergabung Rumbel J.
Saya
sudah mengikuti wawancara Rumbel sejak masih mahasiswa baru, yakni tahun 2013.
Tapi, saat itu saya pun tidak dikabarkan, alias tidak lulus. Kemungkinan besar
karena gagal dalam wawancara. Sebenarnya, sekalipun saya belum pernah melakukan
wawancara seperti itu. Banyak hal yang belum saya persiapkan, baik apa yang
harus dan tidak boleh saya ucapkan. Seperti pertanyaan “apa berita/hal yang
terakhir kali kamu baca di bidang pendidikan?” saat itu saya menjawab
pertanyaan tersebut dengan berita yang sudah sangat lama. Memalukan bukan? Itu
tandanya saya belum memperhatikan masalah-masalah terkait pendidikan tapi sudah
mau jadi pendidik. Ckck. Heran dengan diri saya saat itu.
“Wawancara”
itu menjadi pelajaran berharga bagi wawancara-wawancara selanjutnya. Saya baru
tahu bahwa di universitas setiap open
recruitment atau mendaftar menjadi panitia harus melakukan wawancara.
Selama setahun yang lalu, banyak wawancara yang sudah dialami. Dari wawancara
HMD, oprec Desbin, MUN, dan
lain-lain. Sehingga, saat pendaftaran Rumbel dibuka, saya memberanikan diri
mencoba lagi. Mencatat dan menyiapkan segala hal yang harus diucapkan saat
wawancara.
Tanggal
12 september, wawancara dilakukan di Perpusat lantai 3. Jam 11 saya wawancara
dan Alhamdulillah lagi berjalan
lancar. Kemudian, saya dikabarkan untuk membuat essay serta datang ke test
simulasi mengajar keesokan harinya. JEDUARR. Yak, tantangan kali ini adalah
simulasi mengajar. Memang saya sudah mengajar dari SMA, tapi itu private course buat pelajaran
Matematika&IPA anak SD yang kebetulan tetangga saya dan satu lagi anak SMA
yang les bahasa Jepang. Simulasi mengajar? Tentu belum. Kegiatan mengajar yang
terakhir saya lakukan adalah saat Desa Binaan FMIPA UI. Saat itu saya membantu
mengajar dikelas 1 SD. Sekali lagi, pasti berbeda dengan simulasi mengajar
nanti.
Saya
pun mencatat materi yang akan saya ajarkan. Tidak lupa membawa “hidden card”
yang saya punya, yakni alat sulap. Sulap selalu berhasil menarik perhatian
orang (Prok Prok untuk para pesulap). Di simulasi mengajar, saya mengajarkan
mahasiswa/i yang berpura-pura jadi murid SD. Cukup khawatir karena itu hanya
pura-pura apakah akan benar-benar seperti anak SD? Alhamdulillah mereka benar-benar seperti anak SD, hahahaha.
Sehingga proses pembelajaran pun bisa “terlihat” aktif. Simulasi mengajar pun
selesai, saya langsung izin pulang dan melambaikan tangan ke anak-anak “SD”
tersebut.
Setelah
diumumkan tanggal 18 september, tanggal 20 september 2014 pelatihan pendidik
Rumbel pun diadakan. Jam 10 pagi saya datang ke Pusbintakwa, gedung di depan
Pusgiwa. Saat itu, pembicara Kak Gilang dari Indonesia Mengajar sudah tiba,
tapi masih ada beberapa pendidik yang belum datang. Setelah menunggu kurang
lebih 30 menit, para pendidik mulai lengkap.
Dimulai
dengan Kak Gilang memperkenalkan dirinya serta memberi tahu untuk tidak telat
saat mengajar, karena hal itu dapat dicontoh oleh muridnya. Tentu seperti
peribahasa “Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari”. Seorang guru harus
bisa menjaga dirinya agar murid tidak mencontoh hal-hal negatif, yakni dengan
menghilangkan kebiasaan buruk itu pula. Kak Gilang mengajarkan kita beberapa
teknik perkenalan yang langsung diaplikasikan oleh para pendidik yang memang
belum terlalu kenal. Kami juga mempelajari untuk membuat RPP, yakni semacam
rancangan pembelajaran. RPP tersebut bermanfaat dalam pemanfaatan waktu
pengajaran dalam mencapai target yang ditetapkan tanpa membebani murid. Kita
juga diberi nasihat untuk memikirkan “Apa beda Rumbel dengan sekolah-sekolah
anak tersebut?”.
Setelah
arahan dari Kak Gilang, kami ishoma dan dilanjutkan sharing dengan Kak Muhammad
Anggraito sesepuh di Rumbel. Kak Ito
baru saja lulus dari FKM UI dan berhasil masuk ke Indonesia Mengajar.
Mengagumkan bukan? Kak Ito membawakan persentasi berjudul “Gatel? Garuk Gatel
Lo Sendiri”. Dia memaparkan tentang kondisi di Indonesia yang bermasalah dengan
jumlah orang yang bersekolah hingga pendidikan tinggi hanya secuil persen,
jumlah pengangguran sarjana lebih banyak dari lulusan SD dan sebagainya. Tapi,
walaupun begitu Indonesia bukanlah Negara yang kekurangan orang baik. Berdasarkan
survey yang kak Ito dapat, Indonesia adalah Negara dengan tingkat kepedulian
yang tinggi. Indonesia masuk sebagai Negara paling dermawan. Baik dari jumlah
zakat tunai, volunteer dan bentuk kepedulian lainnya (Standing Applause untuk Negaraku). Intinya kak Ito menjelaskan agar
“kalau kita sebel dengan suatu masalah, jangan melimpahkannya atau
menyerahkannya kepada orang lain, tapi uruslah urusan itu, selesaikanlah
masalah itu. Sama seperti kalau lo gatel, garuk aja sendiri jangan minta orang
lain garukkin gatel lo”. Dalem yah, dari situ belajarlah bahwa jangan hanya
mengeluh dan mengkritik saja, tapi selesaikanlah sendiri. Jangan hanya
memaparkan masalahnya saja, tapi turut menyelesaikannya.
Sekitar
jam 4 sore, setelah pelatihan pendidik, kami berfoto bersama dan foto
masing-masing untuk pendidik. Mulai saat ini, saya berkomitmen di Rumbel. Semoga
bisa membantu Indonesia khusunya anak-anak nanti agar menjadi SDM yang
berkualitas serta membantu saya untuk menjadi orang yang lebih bersyukur dan
terus bersyukur dalam setiap nafas yang dihembuskan. Aminn yaa Rabbal Alamin.
NB:
Judul tulisan meminjam ide kak Ito “Garuk Gatel Lo Sendiri”. Terima kasih kak
Gilang dan kak Ito atas ilmunya yang keren-keren semoga bermanfaat bagi
semuanya. Amin.
No comments:
Post a Comment